Sejarah Nisan nisan yang ada di Museum Prasasti

Published on May 19th, 2015 | by Tim Redaksi
Tim Redaksi

0

Museum Prasasti, Jelajah Spritual di Hiruk Pikuk Jakarta

Jakarta,gurindam12.co-Lagu Ave Maria terlintas di kepala, saat kaki ini menginjakkan halaman depan bangunan. Kematian,kehilangan, dan kesedihan silih berganti berputar di pikiran. Tatapan kosong patung- patung malaikat, dan nisan-nisan tua yang menjadi saksi perjalanan negeri ini memberikan suasana yang berbeda. Dingin.

Detail pada kuburan yang ada di museum Prasasti

Saya sedang berada di museum yang unik di Jakarta. Museum ini merupakan komplek pemakaman atau dalam bahasa Belanda disebut dengan kerkof laan. Tanah pekuburan ini terletak di Jalan Tanah Abang 1 Jakarta Pusat. Dahulunya makam ini bernama Kebon Jahe Kober yang didirikan pada tanggal 28 September 1795. Sekarang komplek ini dikenal dengan nama sebutan Museum Taman Prasasti. Di kawasan seluas 1.3 Ha ini terdapat 1734 koleksi prasasti. Prasasti tersebut berupa batu nisan dari berbagai tokoh yang di anggap berjasa oleh VOC dalam bidang nya masing-masing. Bidang tersebut berupa militer, pendidikan,seniman,ilmuwan, dan rohaniawan. Beberapa tokoh tersebut di antara nya P.A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng), Dr. Hermanus Frederik Roll (Pendiri School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda, salah satu alumni sekolah ini adalah Djamaluddin Adinegoro, pioneer press di Indonesia), Johan Harmen Rudolf Kohler (Jendral Belanda yang meninggal pada perang Aceh pada tahun 1873), Olivia Mariamne Devenish Raffles (istri dari Thomas Stamford Raffles, mantan Letnan Gubernur Hinda Belanda berkebangsaan Inggris di Batavia pada tahun 1805 sampai dengan 1811), Miss Riboet Orion, tokoh opera pada tahun 1930-an dan seorang pemberontak pada zaman VOC yang bernama Pieter Erberveld.

Nisan nisan yang ada di Museum Prasasti

Siapakah Pieter Erberveld sehingga dia bisa berada di makam orang orang penting zaman VOC dulu? Pieter Erberveld ialah Indo Jerman Siam yang tinggal di Batavia. Dia adalah tuan tanah kaya raya yang tinggal di kawasan jalan Pangeran Jayakarta sekarang. Suatu waktu, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sebagai pihak yang berkuasa ingin memperluas wilayah dan menyita tanah-tanah di Batavia, termasuk tanah milik Pieter Erberveld. Tanah-tanah tersebut disita oleh Gubernur Jendral Batavia ke 17 yang bernama Johan Van Hoorn tanpa adanya ganti rugi. Tidak terima dengan hal tersebut, Pieter Erberveld pun merencanakan sebuah pemberontakan. Pemberontakan direncanakan saat perayaan tahun baru, ketika pihak Belanda sedang bersenang-senang merayakan pergantian tahun. Sayangnya, rencana pemberontakan mereka dibocorkan oleh seorang pembantu Pieter Erberveld. Menjelang perayaan tahun baru, Erberveld dan rekan-rekannya ditangkap terlebih dahulu oleh pihak VOC. Mereka diberi hukuman karena telah memberontak.

Logo Heraldik pada salah satu makam

Hukuman ini berupa kedua tangan dan kaki mereka diikat pada tali tambang. Keempat ujung tali tambang kemudian diikatkan pada kuda-kuda pilihan yang sangat kuat. Kemudian, kuda-kuda tersebut dilecut hingga berlari ke arah-arah yang berlawanan. Badan Erberveld dan rekan-rekannya pun terkoyak. Daging mereka terburai, kulit mereka pecah. Tempat eksekusi Peter sekarang bernama kampung Pecah Kulit.

Detail pada kuburan yang ada di museum Prasasti, Jakarta Pusat

Untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memberontak pada saat itu. Pihak VOC membuat monument dengan tengkorak yang menancap di atas nya. Momunen ini ditulis dengan bahasa Belanda dan Jawa. Bunyi tulisan tersebut adalah “Uuteen Verfoeyuluke Gedactenisse Teegenden Oestraften Land Verra Der Pieter Erberveld Sal Niemant Vermoogen Te Deeser Plaatse Te Bouwen Timmeren Met Selen Off Planten Nu Ofte Teneenigen Daace, Batavia Den 14 April 1722“ jika dibahasa Indonesiakan kira kira, “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722”

Patung perempuan yang menangisi kepergian suami nya karena sakit malaria, di museum Prasasti. Jakarta Pusat

Menurut keterangan pihak penjaga museum, sebagian besar jenazah di pemakaman ini sudah di pindahkan. Ada yang sudah di ambil oleh keluarga mereka dan di bawa ke negeri Belanda, Ada yang sudah dipindahkan ke pemakaman di Menteng Pulo, dan ada juga beberapa yang di pindahkan ke pemakaman umum di Tanah Kusir.

Nisan pendiri STOVI DR H F Holl

Selain bisa melihat kuburan-kuburan pejabat pejabat pada zaman VOC dan “ penjahat” Di Taman Prasati ini, saya bisa melihat peninggalan peninggalan berupa batu nisan yang dipahat dengan indah. Batu-batu nisan yang ada di taman ini berfungsi sebagai petunjuk siapa yang dimakamkan. Terdapat logo heraldik yang menunjukkan garis keturunan keluarga, Ada keturunan keluarga Cornelis Breekpot (bekas komandan militer Belanda di Malabar, India), Jonatan Michielsz (saudagar Portugis, mardjiker),Cornelis Lindius (agamawan gereja), Juffrow Sara Pedel (saudagar), Catharina van Doorn (anggota dewan Hindia-Belanda), dan Jacques de Bollan (pelaut keturunan Perancis yang berlayar ke Madagascar dari Batavia untuk membawa Tuan Du Rivaux, Gubernur Perancis di Fort Dauphin, Madagascar dan juga membawa meriam, sayangnya perjalanan ini gagal karena badai, dan De Bollan kembali ke Batavia pada tahun 1661). Logo Heraldik merupakan semacam lambang status sosial yang diberikan kepada suatu keluarga karena memiliki jasa-jasa tertentu

Saat melihat detail detail indah ini, ingatan saya seperti berjalan ke tahun 1800-an. Pada saat itu, seorang bangsawan Belanda meninggal. Diadakan sebuah upacara pemakaman. Pihak keluarga melepaskan orang yang dikasihi dengan rasa sedih. Diiringi tangisan pilu peti mati di turunkan, liang di tutup dan patung batu dari malaikat akan menjadi teman hingga akhir zaman nanti.

Nisan Soe Hok Gie.Seorang aktifis pada era 1960, nisan ini berada di Museum Prasasti. Jakarta Pusat.

Namun, dari semua prasati yang indah beserta sejarah yang menyertai nya. Tujuan saya sebenar nya adalah sebuah nisan seorang tokoh muda yang merupakan dikatakan idola saya.. Karena ingin mengecek kebenaran pernyataan teman, Sayapun berkunjung ke museum ini. Saya mencari nisan Soe Hok Gie. Beliau adalah pendaki gunung cum aktifis. Bagi saya, ke museum ini adalah sebagai ziarah spiritual untuk kembali mengenang sosok Soe Hok Gie. Dan di museum ini, prasasti itu berada.

Detail pada kuburan yang ada di museum Prasasti yang sudah di corat coret tangan jahil.

Berkunjung ke Taman Prasati ini, seperti kembali ke masa lalu. Zaman di mana Verenigde Oost Indische Company ( VOC) masih berkuasa di Batavia dan Indonesia. Nisan-nisan ini seolah ingin bercerita kepada saya bagaimana dahulu nya “mereka” dan siapa “mereka”. Seperti tulisan yang ada di salah satu nisan yang ditulis dalam bahasa Belanda, “SOO GY. NU SYT. WAS. IK VOOR DEESEN DAT. JK, NV BEN SVLT GY OOK WEESEN. ” makna tulisan ini kurang lebih. Seperti anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah juga anda kelak”. ( BAW)

Tags: , , , , , , , , , , ,


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑
  • GURINDAM12.CO Facebook

  • Lensa Wisata: lensawisata.com

  • Perhimpunan Media Online Riau

  • TWEET KAMI

    Tweets by @KBRGurindam12


Hot News!