Jejak Sejarah di Wisma Menumbing
Batu besar yang dilapisi lumut kehijauan terlihat mencolok diantara pepohonan rimbun perbukitan. Tulisan mencolok berwarna kecoklatan terlihat diatas batu. “Gunakan gigi satuâ€. Koh Ayun, supir mobil, dengan sigap menurunkan transmisi mobil ke gigi satu. Raungan mesin mobil memecah kesunyian kawasan perbukitan siang itu.
Tikungan-tikungan tajam yang sempit menjadi sajian utama sebelum tiba di gerbang tiket. “ Lima ribu rupiah pakâ€, ujar penjaga tiket. Ternyata, pada siang itu bukan saya saja yang datang ke bangunan yang berada di puncak bukit, terlihat beberapa motor dan mobil di halaman parkir bangunan.
Bukit Menumbing adalah nama tempat yang saya kunjungi. Menumbing adalah tempat dimana para founding father/ pendiri bangsa saat agresi militer Belanda ke dua diasingkan. Bukit ini berjarak dua puluh menit berkendara keluar dari kota Muntok, Bangka, kearah Tanjung Ular, kurang lebih berjarak 10 km dari Muntok. Mereka diasingkan secara terpisah menuju Menumbing dari ibukota negara saat itu, Yogyakarta. Beberapa rombongan diberangkatkan oleh Belanda menuju rumah pengasingan.
Rombongan pertama yang masuk adalah Bung Hatta, A G Pringodigdo ( sekretaris negara ), Assat ( ketua badan KNIPP ), dan Suryadarma ( Kepala Staf Angkatan Udara pada saat itu ). Mereka dibawa oleh Belanda pada bulan Desember 1948. Setelah rombongan Bung Hatta, di bulan yang sama, rombongan Mohammad Roem dan Mr Alisastro Amidjojo yang masuk ke Menumbing. Dan rombongan selanjutnya adalah Bung Karno dan Haji Agus Salim yang datang ke Menumbing pada bulan Februari 1949.
Bangunan yang ditempati oleh para pendiri bangsa merupakan bekas bangunan dari Banka Tin Wining ( BTW ) , BTW adalah perusahaan timah yang sejak zaman VOC sudah ada di pulau Bangka. Bangunan yang sekarang di sebut dengan Wisma Menumbing ini menyerupai benteng dengan pemandangan luas menghadap ke Tanjung Kalian. Pada bagian dalam bangunan, perabotan- perabotan wisma ini masih asli. Kursi-kursi kayu,meja-meja rapat, bahkan lantai tegel dari bangunan ini masih asli. Ada pemandangan yang menarik di bagian tembok wisma yang berada di ketinggian 325 meter diatas permukaan laut ini (mdpl), terdapat foto Bung Karno dan Haji Agus Salim. Bung Karno terlihat melihat ke arah kamera dan Haji Agus Salim duduk santai sembari memegang tongkatnya. Mereka duduk santai di atas batu.
Masih di bagian dalam wisma, pada koridor ujung sebelah kanan, terdapat mobil tua yang berplan BN 10, berdasarkan keterangan penjaga wisma. Mobil Ford de luxe ini dahulu digunakan oleh bung Karno saat berkeliling di Kota Muntok. Mobil dengan cat hitam ini berplat BN 10 menjadi saksi perjalanan putra Sang Fajar di Kota Muntok. Dibelakang mobil Ford, terdapat kamar khusus tempat Bung Karno dan Bung Hatta tidur. Di dalam pengasingan di kota Muntok, Bung Karno tinggal bersama Bung Hatta di wisma Menumbing, di kamar ini, terdapat dua dipan dengan bantal bantal yang disarung kain putih. Menurut keterangan penjaga wisma, saat tinggal di wisma Menumbing, Bung Karno tidak kuat dengan udara dingin. Akibatnya, Bung Karno pindah ke wisma Ranggam yang lebih dekat dari Kota Muntok. Bung Hatta yang menempati kamar ini sampai beliau meninggalkan kota Muntok. Lukisan Bung Karno berukuran 40R menjadi pemanis dari kamar ini. Perabotan-perabotan yang ada di kamar ini masih asli.
Sebelum masuk ke dalam kamar Bung Karno dan Bung Hatta, saya melewati ruang kerja Bung Karno. Di ruang ini terdapat memorabilia berupa foto-foto para pendiri bangsa yang ikut diasingkan di wisma ini. Foto dari Haji Agus Salim terdapat diantara memorabilia yang ada. Menteri luar negeri republik Indonesia ini ikut serta bersama Bung Karno diungsikan dari Yogyakarta. Sebelum tiba di Wisma Menumbing, terlebih dahulu Bung Karno dan Haji Agussalim diinapkan di Rantau Prapat, Sumatera Utara. Kemudian, dengan menggunakan pesawat bomber milik Belanda, mereka berangkat dari Prapat ke kota Pangkal Pinang, kemudian dibawa ke Menumbing.
Selain memorabilia para bapak bangsa. Di wisma ini juga terdapat memorabilia dari orang orang Bangka yang dulu ikut membantu Bung Karno dan bung Hatta selama di pengasingan. Foto foto para pemuda kota Bangka yang dahulu ikut membantu di wisma ini juga ikut dipajang. Dari bagian dalam wisma, saya ke bagian luar. Saya menuju lantai dua wisma, dengan terlebih dahulu melewati tangga beton dengan rel besi yang kokoh. Di lantai dua ini, saya bisa melihat pemandangan dari kota Muntok. Bekas bekas tambang timah terlihat mencolok, seperti bekas bekas luka yang belum kering.
Berkunjung ke Wisma Menumbing, napak tilas perjalanan para pendiri bangsa. (BAW).







